Atap adalah bagian yang sangat penting dalam bangunan rumah. Namun, atap yang kokoh tidak akan berfungsi tanpa adanya penutup atap. Bagian inilah yang nantinya akan menjadi penutup ruangan dalam rumah agar tidak terkena paparan hujan dan panas secara langsung.

Seiring berkembangnya teknologi, bagian penutup pada atap ini terus mengalami pembaruan sehingga semakin hari semakin kuat dan praktis. Tidak seperti awal perkembangannya yang masih menggunakan bahan-bahan seadanya seperti dedaunan dan ijuk.  

Macam-Macam Penutup Atap

Hingga saat ini, ada banyak sekali penutup untuk atap rumah yang bisa dibedakan dari bentuk dan bahan atau materialnya. Banyaknya jenis penutup atap ini justru mempermudah masyarakat untuk memilih yang paling sesuai dengan kebutuhan. 

Berikut adalah macam-macam penutup untuk atap yang bisa dijadikan pilihan sesuai kebutuhan:

1. Atap Dak Beton

Atap beton merupakan jenis atap yang paling modern saat ini. Biasanya bangunan dengan dak beton ini berada di area perumahan dengan desain rumah minimalis. Bahannya yang terbuat dari campuran pasir, semen, dan bahan kimia lainnya ini membuat beton sangat kuat dan tahan terhadap cuaca ekstrem.

Sayangnya, atap ini kurang cocok untuk kalangan menengah ke bawah karena biaya pembangunannya yang mahal dan harus dikerjakan oleh ahli. Meski begitu, atap bisa bertahan hingga puluhan tahun walaupun bagian atasnya yang datar mudah tergenang air. 

2. Atap PVC

Beton memang disebut atap yang paling kuat, sayangnya bobotnya terlalu berat dan membahayakan saat retak. Bagi yang lebih menyukai jenis penutup atap yang ringan maka jenis PVC menjadi pilihan yang paling tepat.  Bahan utama atap ini adalah plastik yang sudah mengalami proses kimia.

Baca Juga  Ukuran Kitchen Set Minimalis Ideal Untuk Dapur Rumahmu!

Tidak heran kalau bobotnya cukup ringan dan pemasangannya jauh lebih praktis. Daya tahannya juga sangat baik terhadap panas dan hujan karena sifatnya anti jamur. Tetapi atap jenis ini masih memiliki kelemahan dari sifat materialnya yang cepat menghantar panas sehingga suhu ruangan mudah naik. 

3. Atap Genteng Tanah Liat

Penutup ini bisa disebut atap legendaris karena sudah ada sejak lama dan masih populer hingga sekarang. Bahkan sebagian besar rumah masyarakat Indonesia di semua kalangan menggunakan genteng tanah liat. 

Sesuai namanya, genteng dibuat menggunakan bahan tanah liat yang dibentuk dan dibakar dengan suhu yang sangat tinggi. Tentu saja ini membuat ketahanannya sangat maksimal kalau sekedar untuk menahan cuaca. 

Selain harganya yang lebih terjangkau, kelebihan genteng juga bisa dirasakan dari bahan tanah liat yang bisa meredam panas. Jadi, suhu di dalam ruangan tetap terasa dingin meski cuaca panas. Kekurangan genteng ini hanya terdapat dari bahannya yang mudah pecah saat jatuh atau terkena pukulan benda keras. 

4. Atap Genteng Keramik

Dari segi tampilannya, sekilas genteng keramik dan tanah liat ini sama. Bahannya juga sama-sama menggunakan tanah liat, hanya saja tanah yang dipakai merupakan tanah pilihan dan sudah dilapisi dengan glazur seperti lantai. 

Dengan lapisan ini, warna genteng tetap bagus dan seperti baru. Sifat lapisan glazur membuat penutup lebih kedap terhadap air. Tentunya kelebihan ini membuat harga genteng jauh lebih mahal dan lebih diminati oleh kalangan menengah ke atas. 

5.  Atap Sirap Berbahan Kayu Ulin

Penutup ini terbuat dari kayu ulin berkualitas dan sudah dipotong-potong dengan ukuran tertentu sesuai standar. Atap sirap ini banyak digunakan di daerah yang memiliki produksi kayu ulin berlimpah, seperti Kalimantan dan sekitarnya.

Baca Juga  10 Rekomendasi Merk Water Heater Listrik Terbaik

Dari segi daya tahannya, bahan ini memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap cuaca ekstrem, bahkan melebihi tanah liat pada umumnya. Untuk pemasangannya sendiri menggunakan model bertumpuk dan hanya bisa dikerjakan oleh orang yang sudah terbiasa menggunakannya. 

6. Atap Seng

Seng juga termasuk penutup atap yang cukup ringan dan mudah dalam pemasangannya. Kekuatannya juga sangat baik untuk sekadar menahan panas dan hujan. Tapi banyak yang enggan menggunakan atap ini karena bahannya yang sangat panas dan membuat suhu lebih tinggi. 

Selain itu, sifat seng mudah memantulkan suara sehingga saat turun hujan akan terdengar suara berisik yang mengganggu kenyamanan di dalam ruangan. 

7. Atap Asbes

Penutup jenis asbes sering disebut sebagai atap darurat karena bahannya yang murah dan mudah didapatkan saat kondisi sedang terdesak. Namun, material penutup atap asbes sangat mudah bocor dan pecah sehingga tidak tahan lama dan tidak bisa digunakan terus menerus. 

Bahan asbes juga terasa sangat panas saat digunakan, namun jika dibandingkan dengan seng, suhu panas yang dihasilkan jauh lebih rendah.  

8. Genteng Aspal (Bitumen)

Genteng aspal memang agak jarang ditemui di Indonesia. Penggunaannya lebih sering ditemukan pada rumah-rumah mewah di luar negeri dan dipadukan dengan atap kaca yang transparan. Karena terbuat dari bahan Polypropylene yang dipakai campuran aspal, warna penutup ini hitam dan lebih elegan. 

Untuk pemasangannya sendiri memang lebih rumit karena harus menggunakan lem ataupun sekrup. Kelebihan penutup ini tidak hanya dari tampilannya yang menarik dan minimalis, namun juga pada 

9. Genteng Metal Pasir

Salah satu penutup untuk atap inovasi terbaru yang mulai diminati di Indonesia adalah genteng metal pasir. Genteng ini tidak terbuat dari pasir, tapi memiliki tampilan kasar seperti pasir. Adapun materialnya adalah perpaduan dari zincalum, coraltez, phospat dan galvalum.

Baca Juga  Rumus Campuran Beton yang Aman dan Sesuai SNI

Bahan-bahan tersebut disinyalir lebih ramah lingkungan dan memiliki sifat anti karat. Sifatnya juga memantulkan panas dan mampu meredam suara hujan. Karena bahannya yang terbuat dari logam, tidak heran apabila model penutup ini sangat banyak dan bisa dipilih sesuai selera.

Walaupun memiliki banyak kelebihan, dalam aplikasinya genteng ini juga punya beberapa kelemahan. Misalnya saja dari warnanya yang sangat mudah terkelupas kalau dipakai lama. Selain itu, ketebalannya yang hanya 0,20 mm ini membuat genteng mudah pecah dan rusak saat terkena tekanan terlalu tinggi. 

10. Atap Ijuk

Sesuai namanya, penutup ini hanya menggunakan bahan ijuk yang berasal dari pohon aren. Penutup ini memang sudah tidak digunakan sebagai atap rumah, namun masih sering dipakai sebagai atap rumah ibadah seperti pura yang ada di Bali sebagai ciri khasnya. 

Pemasangan atap ijuk juga membutuhkan keahlian khusus karena harus dirangkai sebelum diaplikasikan di bagian atap. Bahan ijuk ini tentunya tidak tahan terhadap hujan dan mudah bocor. Dalam beberapa kasus, banyak juga ijuk yang berjamur sehingga menimbulkan kutu jika tidak dirawat. 

11. Atap Rumbia

Atap ini menggunakan daun rumbia dan masih sering dipakai sebagai penutup pada atap kandang kambing ataupun sapi. Bahannya yang sangat natural juga membuat rumbia masih dipakai pada beberapa vila atau penginapan untuk memperkenalkan budaya dan etnis.

Tentu saja daun rumbia memiliki kelemahan dari sifatnya yang sangat lembek dan mudah bocor ketika tidak diaplikasikan dengan baik.Semua jenis penutup atap di atas masih digunakan sampai saat ini meski semuanya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Untuk meminimalisir kelemahannya, pemilihan atap sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. Jika ingin beli penutup atap, bisa  kunjungi Tokban.com.