Material Bangunan
Kanal CNP: Ukuran, Berat, Fungsi, dan Beda dengan UNP
Panduan kanal CNP: cara membaca notasi ukuran, tabel berat per batang 6 meter, bedanya dengan UNP dan baja ringan kanal C, plus tips pemasangan gording.

Kalau Anda pernah memperhatikan rangka atap gudang, kanopi bengkel, atau tiang penopang papan reklame di pinggir jalan, kemungkinan besar Anda sudah melihat kanal CNP tanpa menyadarinya. Profil baja berpenampang huruf C ini termasuk material yang paling sering muncul di proyek Indonesia, terutama sebagai gording dan rangka sekunder, karena bobotnya relatif ringan, gampang disambung dengan baut maupun las, dan tersedia hampir di semua toko besi.
Persoalannya, istilah kanal C dipakai untuk dua barang yang sangat berbeda. Satu adalah CNP struktural dari baja hitam yang tebalnya milimeteran, satu lagi baja ringan kanal C berlapis aluminium-seng yang tebalnya kurang dari satu milimeter. Salah pilih di antara keduanya bisa berujung atap melendut atau, sebaliknya, biaya yang membengkak tanpa perlu. Artikel ini membedah ukuran, cara membaca notasi, tabel berat, mutu baja, sampai kesalahan pemasangan yang paling sering terjadi di lapangan.
Jawaban singkat: Kanal CNP adalah profil baja berpenampang huruf C yang ujung sayapnya ditekuk membentuk bibir (lip), dibentuk dingin dari pelat baja hitam canai panas, dengan tebal umum 1,6 sampai 3,2 mm dan panjang standar 6 meter per batang. Notasi ukurannya dibaca berurutan sebagai badan x sayap x bibir x tebal, jadi CNP 100 x 50 x 20 x 2,3 berarti badan 100 mm, sayap 50 mm, bibir 20 mm, dan tebal pelat 2,3 mm. Bedanya dengan UNP, profil UNP berbentuk huruf U tanpa bibir dan diproduksi lewat canai panas sehingga jauh lebih tebal dan sanggup memikul beban besar. Kanal CNP juga bukan barang yang sama dengan baja ringan kanal C, yang tebalnya hanya sekitar 0,60 sampai 1,00 mm dan berlapis aluminium-seng.
Apa Itu Kanal CNP dan Bentuk Penampangnya
Kanal CNP adalah profil baja dengan penampang menyerupai huruf C. Bagian tegaknya disebut badan atau web, dua bagian yang menonjol tegak lurus dari badan disebut sayap atau flange, dan ujung setiap sayap ditekuk lagi sedikit ke dalam membentuk bibir atau lip. Bibir inilah yang membedakan CNP dari kanal U biasa, dan alasannya bukan sekadar estetika.
Di Indonesia, kanal CNP dicetak lewat proses cold-formed atau tekuk dingin (roll forming) dari pelat baja lembaran panas jenis SPHC yang mengacu standar JIS G3131. Artinya bahan bakunya memang baja hitam hasil canai panas, tetapi pembentukan profilnya dilakukan pada suhu ruang, bukan dengan memanaskan billet lalu melewatkannya ke rol pembentuk seperti pada profil WF atau UNP. Proses tekuk dingin ini secara mekanis menaikkan tegangan leleh material di area lekukan, sehingga rasio kekuatan terhadap berat CNP cukup efisien untuk elemen struktur sekunder.

Kenapa Ujung Sayap Kanal CNP Diberi Bibir
Bibir pada ujung sayap berfungsi sebagai pengaku tepi (edge stiffener). Pada profil pelat tipis, tepi sayap yang bebas gampang menekuk lokal saat menerima tekanan, jauh sebelum material mencapai kekuatan lelehnya. Dengan menekuk ujung sayap, tepi bebas itu jadi terkekang, lebar efektif sayap yang bisa memikul tekanan bertambah, dan beban yang memicu tekuk lokal naik signifikan. Bonusnya, bibir juga menambah kekakuan puntir penampang secara keseluruhan sehingga profil lebih tahan terhadap deformasi memuntir.
Inilah alasan profil berbibir cocok dipakai sebagai gording atau girt: penampangnya tipis dan ringan, tetapi tidak langsung gagal karena tekuk lokal di tepi sayap.
Beda Kanal CNP dan Besi UNP
Dua profil ini sering ditaruh bersebelahan di toko besi dan sekilas mirip, padahal kelasnya berbeda. UNP berbentuk huruf U dengan sayap yang polos tanpa bibir, dan diproduksi lewat proses canai panas (hot rolling) dari billet baja. Mutu bajanya umumnya setara JIS G3101 SS400 atau ASTM A36, dan di Indonesia dimensinya diatur lewat SNI 9150:2023 tentang baja profil canai panas, standar yang sejak 2023 menggabungkan sekaligus merevisi SNI 07-0052-2006 untuk baja profil kanal U.
Konsekuensinya di lapangan cukup jelas. Tebal badan UNP 100 x 50 saja sudah sekitar 5 mm, sementara CNP 100 x 50 x 20 paling tebal ada di angka 3,2 mm. Satu batang UNP 100 sepanjang 6 meter beratnya sekitar 56 kg, sedangkan CNP 100 x 50 x 20 x 3,2 mm hanya sekitar 33 kg. UNP dipilih ketika elemen harus memikul beban terkonsentrasi yang besar atau menjadi bagian dari struktur utama, sedangkan CNP dipilih untuk struktur sekunder yang lebih mengutamakan efisiensi bobot.

Kanal CNP Struktural dan Baja Ringan Kanal C Bukan Barang yang Sama
Ini kekeliruan yang paling sering terjadi saat belanja material. Keduanya sama-sama berpenampang C berbibir, tetapi bahan, ketebalan, dan tujuan pemakaiannya berbeda jauh.
Baja ringan kanal C dibentuk dingin dari lembaran baja mutu tinggi kelas G550 yang sudah dilapis paduan aluminium-seng, misalnya spesifikasi AZ100 yang berarti massa lapisan 100 gram per meter persegi. Ketebalannya beredar mulai 0,60 mm sampai 1,00 mm, dengan 0,75 mm paling lazim untuk rangka atap rumah tinggal. Profil rangka baja ringan lapis logam ini diatur lewat SNI 8399, dengan edisi terbaru SNI 8399:2025 tentang profil baja ringan yang merevisi edisi 2023 dan edisi 2017. Panjang standar per batangnya 6 m, sedangkan panjang lain seperti 3 m, 4 m, sampai sekitar 12 m umumnya harus dipesan khusus ke produsen. Karena sudah berlapis anti karat dari pabrik, profil ini tidak perlu dicat lagi.
Kanal CNP struktural, sebaliknya, biasanya dijual dalam kondisi baja hitam polos dengan tebal 1,6 sampai 3,2 mm. Permukaannya rata tanpa emboss, dan kalau dipakai di area terbuka wajib dilindungi, entah dengan cat anti karat atau dengan memilih versi galvanis. Untuk rangka atap rumah tinggal dengan penutup ringan, baja ringan kanal C sering kali sudah memadai dan lebih hemat. Untuk gording gudang, rangka mezzanine, atau dudukan mesin yang menerima beban terkonsentrasi, CNP struktural yang lebih tepat. Pembahasan lengkap sisi baja ringannya ada di artikel baja ringan kanal C.
Cara Membaca Notasi Ukuran Kanal CNP
Penulisan ukuran CNP mengikuti urutan yang konsisten: badan x sayap x bibir x tebal, semuanya dalam milimeter. Jadi ketika penjual menyebut CNP 100 x 50 x 20 x 2,3 mm, yang dimaksud adalah:
- 100 mm ukuran badan (web), yaitu sisi tegak yang paling panjang dan menentukan tinggi profil saat dipasang sebagai gording.
- 50 mm lebar sayap (flange), dua sisi yang menonjol tegak lurus dari badan.
- 20 mm tinggi bibir (lip), tekukan kecil di ujung masing-masing sayap.
- 2,3 mm tebal pelat, berlaku merata untuk seluruh penampang karena profil ini dibentuk dari satu lembar pelat.
Di lapangan orang sering menyingkatnya jadi CNP 100 atau CNP 150 saja. Penyebutan pendek itu hanya merujuk ukuran badan, padahal lebar sayap dan tebal pelat bisa berbeda-beda. CNP 150 x 50 x 20 dan CNP 150 x 65 x 20 sama-sama disebut CNP 150, tetapi berat dan kapasitas pikulnya tidak sama. Selalu sebutkan empat angka lengkap saat meminta penawaran supaya tidak salah kirim.

Ukuran Kanal CNP yang Umum Beredar dan Panjang Batangnya
Panjang standar kanal CNP di pasar Indonesia adalah 6 meter per batang. Sebagian pabrik dan fabrikator melayani pesanan potong khusus, tetapi stok reguler di toko material hampir selalu 6 meter. Tabel berikut merangkum ukuran yang paling umum beredar beserta berat per batang, yang berguna untuk memperkirakan muatan truk dan beban rangka.
| Ukuran (mm) | Tebal umum (mm) | Berat per batang 6 m (kg) | Aplikasi tipikal |
|---|---|---|---|
| CNP 60 x 30 x 10 | 1,6 | ± 9,8 | Rangka partisi, rak, rangka ringan non-struktural |
| CNP 75 x 35 x 15 | 1,6 | ± 12,4 | Rangka pagar, rangka dinding ringan |
| CNP 75 x 45 x 15 | 1,6 dan 2,3 | ± 13,9 dan ± 19,5 | Gording bentang pendek, rangka kanopi |
| CNP 100 x 50 x 20 | 1,6 sampai 3,2 | ± 17,5 sampai ± 33,0 | Gording rumah dan ruko, rangka gerbang |
| CNP 125 x 50 x 20 | 2,3 dan 3,2 | ± 27,1 dan ± 36,8 | Gording bentang menengah, rangka mezzanine ringan |
| CNP 150 x 50 x 20 | 2,3 dan 3,2 | ± 29,8 dan ± 40,6 | Gording gudang, rangka bangunan bentang sedang |
| CNP 150 x 65 x 20 | 2,3 dan 3,2 | ± 33,0 dan ± 45,1 | Gording gudang dengan jarak kuda-kuda sekitar 6 m |
| CNP 200 x 75 x 20 | 3,2 | ± 55,6 | Gording bentang panjang, rangka struktur berat |
Angka berat di atas adalah berat tabel. Produk nyata di lapangan punya toleransi manufaktur, umumnya disebut sekitar lima persen, jadi jangan kaget kalau hasil timbangan sedikit meleset dari tabel.
Cara Menghitung Berat dan Kebutuhan Batang
Prinsipnya sederhana: berat total sama dengan berat per meter dikali panjang total, atau berat per batang dikali jumlah batang. Yang perlu diingat, berat per meter sangat bergantung pada tebal pelat, bukan hanya pada ukuran badan. CNP 150 x 65 x 20 tebal 2,3 mm beratnya sekitar 33 kg per batang 6 meter, yang berarti sekitar 5,5 kg per meter. Versi 3,2 mm dengan ukuran badan dan sayap yang persis sama melompat ke sekitar 45,1 kg per batang atau sekitar 7,5 kg per meter. Selisihnya sekitar 37 persen hanya karena beda tebal.
Contoh perhitungan berikut sifatnya estimasi kasar untuk membantu Anda menyiapkan anggaran material, bukan pengganti perhitungan struktur.
- Tentukan geometri atap. Misalnya gudang sepanjang 24 m dengan jarak antar kuda-kuda 6 m, panjang bidang miring atap 8 m per sisi, dan rencana jarak antar gording 1,2 m.
- Hitung jumlah baris gording. Panjang miring 8 m dibagi jarak 1,2 m menghasilkan sekitar 7 jarak antar gording, artinya dibutuhkan sekitar 8 baris gording per sisi atap.
- Hitung batang per baris. Bangunan sepanjang 24 m dengan batang 6 meter membutuhkan 4 batang per baris.
- Kalikan. 8 baris x 4 batang = 32 batang per sisi, sehingga dua sisi atap butuh sekitar 64 batang.
- Konversi ke berat. Kalau dipakai CNP 150 x 65 x 20 x 2,3 mm dengan berat sekitar 33 kg per batang, totalnya sekitar 2.112 kg atau kurang lebih 2,1 ton.
Tambahkan cadangan sekitar lima persen untuk potongan sisa, sambungan yang tumpang tindih, dan batang yang cacat saat bongkar muat. Jumlah gording per sisi juga masih perlu dibulatkan sesuai posisi nok dan lisplang.

Mutu Baja dan Perlindungan Karat
Karena kanal CNP dibentuk dari pelat baja hitam, permukaannya tidak punya perlindungan apa pun saat keluar dari pabrik. Dalam kondisi kering dan terlindung, misalnya sebagai gording di bawah penutup atap yang rapat, baja hitam yang dicat dengan primer anti karat bisa bertahan lama. Yang jadi masalah adalah proteksi cat bersifat pasif: begitu lapisannya tergores atau terkelupas, karat menjalar di bawah permukaan cat tanpa terlihat sampai kerusakannya sudah lanjut.
Versi galvanis punya mekanisme yang berbeda. Lapisan seng bekerja sebagai penghalang sekaligus anoda korban, sehingga goresan kecil masih terlindungi oleh seng di sekitarnya. Untuk area terbuka, lokasi dekat pantai, ruang lembap, atau bangunan industri dengan udara agresif, versi galvanis atau hot-dip galvanized jauh lebih masuk akal meskipun biaya awalnya lebih tinggi.
Satu catatan teknis yang sering dilewatkan tukang: kalau CNP galvanis disambung dengan las, lapisan seng di sekitar area las akan terbakar dan hilang. Praktik yang benar adalah membersihkan seng beberapa sentimeter dari area sambungan sebelum mengelas, lalu mengembalikan proteksi dengan cat kaya seng setelah lasan dingin. Tanpa langkah itu, titik las justru jadi lokasi karat pertama muncul.
Aplikasi Kanal CNP di Lapangan
Kanal CNP paling dikenal sebagai gording atau purlin, yaitu balok horizontal yang membentang di atas kuda-kuda dan menerima beban dari penutup atap lalu meneruskannya ke rangka utama. Selain itu, profil ini rutin dipakai untuk:
- Rangka Dinding dan Girt pada bangunan berdinding panel logam, sebagai dudukan horizontal tempat lembaran dinding disekrup.
- Rangka Mezzanine Ringan sebagai balok anak di atas balok utama, biasanya dikombinasikan dengan profil yang lebih berat untuk balok induknya.
- Rangka Pagar dan Gerbang, sering dipadukan dengan besi hollow untuk bidang isian. Kalau Anda sedang membandingkan opsi, referensi ukuran besi hollow bisa membantu menentukan kombinasi profil.
- Dudukan Mesin dan Rangka Peralatan di pabrik, karena penampang C memudahkan pemasangan baut dari sisi terbuka.
- Rangka Papan Reklame dan Kanopi, yang menuntut bobot ringan tetapi tetap kaku terhadap beban angin.
Untuk rangka utamanya sendiri, kuda-kuda dan kolom biasanya memakai profil canai panas seperti WF. Tabel dimensi dan beratnya bisa Anda cek di artikel tabel baja WF.

Pemasangan Gording dan Fungsi Trekstang
Arah pemasangan gording CNP bukan hal sepele. Umumnya profil dipasang dengan badan tegak lurus bidang atap dan sisi terbuka menghadap ke arah puncak atap, sehingga beban penutup atap ditumpu oleh punggung profil dan kecenderungan gording berputar ke arah kemiringan bisa ditekan. Gording dijepit ke kuda-kuda lewat sepatu gording atau pelat dudukan yang dilas ke rangka utama, lalu dibaut ke badan CNP.
Elemen pendamping yang wajib ada adalah trekstang, yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai sag rod. Bentuknya batang besi bulat berulir dengan mur di ujungnya, dipasang melintang menghubungkan gording satu ke gording berikutnya lewat lubang kecil di badan profil. Fungsinya mengikat, meluruskan, dan menahan gording agar tidak melorot atau terpuntir ke arah kemiringan atap. Barisan gording yang dipasangi trekstang dan disetel kekencangannya akan berdiri lurus sejajar, dan lendutan ke arah samping bisa ditekan.
Soal sambungan, baut umumnya lebih disukai untuk sambungan gording ke rangka karena bisa disetel dan dibongkar, sekaligus lebih aman untuk material galvanis. Las dipakai untuk pelat dudukan, buhul, dan sambungan yang memang dirancang kaku. Pastikan pengelasan dikerjakan tukang las yang kompeten, karena profil setipis 2,3 mm mudah bolong kalau arus terlalu tinggi.

Kesalahan Umum saat Memakai Kanal CNP
Sebagian besar keluhan soal CNP bukan karena materialnya jelek, melainkan karena keputusan di tahap perencanaan atau pemasangan. Tiga yang paling sering muncul:
- Memilih Profil Terlalu Tipis untuk Bentang Panjang. Kapasitas gording tidak hanya soal kuat atau tidak, tetapi juga soal lendutan izin. Studi perencanaan gording menunjukkan profil CNP 125 x 50 x 20 x 3,2 mm bisa saja masih cukup kuat memikul beban, tetapi lendutannya melampaui batas izin, sehingga alternatifnya adalah naik ke CNP 150 x 50 x 20 x 2,3 mm. Menambah tinggi badan sering lebih efektif daripada sekadar menambah tebal pelat.
- Tidak Memasang Trekstang. Tanpa pengikat melintang, gording cenderung terpuntir dan melorot mengikuti kemiringan atap. Gejalanya terlihat dari barisan gording yang tidak lagi sejajar dan penutup atap yang bergelombang.
- Melewatkan Perlindungan Anti Karat. Baja hitam yang langsung dipasang tanpa primer, apalagi di area terbuka atau lembap, akan berkarat lebih cepat daripada perkiraan. Perlakuan minimal adalah membersihkan permukaan lalu mengecat dengan primer anti karat sebelum profil naik ke rangka, karena mengecat di ketinggian jauh lebih repot dan hasilnya tidak merata.
Kesalahan keempat yang lebih administratif tetapi tetap mahal: memesan hanya dengan menyebut CNP 150 tanpa tebal dan lebar sayap. Selisih satu tingkat ketebalan mengubah berat kiriman ratusan kilogram dan bisa membuat rencana pengangkutan meleset.

Perbandingan Kanal CNP, UNP, dan Baja Ringan Kanal C
| Aspek | Kanal CNP | Besi UNP | Baja Ringan Kanal C |
|---|---|---|---|
| Bentuk penampang | Huruf C dengan bibir di ujung sayap | Huruf U tanpa bibir | Huruf C dengan bibir, pelat sangat tipis |
| Proses pembentukan | Tekuk dingin (roll forming) dari pelat baja hitam canai panas | Canai panas (hot rolling) dari billet baja | Tekuk dingin dari lembaran baja lapis logam |
| Tebal tipikal | 1,6 sampai 3,2 mm | Tebal badan mulai sekitar 5 mm ke atas | 0,60 sampai 1,00 mm |
| Material dan lapisan | Baja karbon, umumnya hitam polos atau versi galvanis | Baja struktural setara SS400 atau ASTM A36, umumnya hitam | Baja mutu tinggi kelas G550 berlapis aluminium-seng |
| Panjang batang umum | 6 m | 6 m | 6 m standar, panjang lain pesanan khusus |
| Perlu dicat | Ya untuk versi hitam | Ya | Tidak, lapisan pabrik sudah anti karat |
| Aplikasi utama | Gording, girt dinding, rangka pagar, mezzanine ringan | Balok, kolom, struktur pemikul beban besar | Rangka atap dan plafon bangunan ringan |
Gambar produk di artikel ini hanya ilustrasi/referensi, bukan foto produk asli. Untuk foto dan spesifikasi produk yang kami jual, silakan konsultasi dulu sebelum membeli.
Kalau Anda ingin menelusuri profil dan material logam lain untuk melengkapi rencana rangka, kategori besi dan aluminium bisa jadi titik awal yang praktis.
Catatan: angka spesifikasi, ukuran, dan kebutuhan material di artikel ini adalah acuan umum yang bisa berbeda antar merek, standar pabrik, dan kondisi lapangan. Untuk perhitungan dan pelaksanaan di proyek Anda, konsultasikan dulu dengan tukang berpengalaman atau tenaga ahli yang kompeten.
Pertanyaan Seputar Kanal CNP
Apa beda besi CNP dan UNP?
CNP berpenampang huruf C dengan bibir tekukan di ujung sayap dan dibentuk dingin dari pelat baja, sedangkan UNP berpenampang huruf U polos tanpa bibir dan diproduksi lewat canai panas. UNP jauh lebih tebal dan berat, jadi dipakai untuk elemen pemikul beban besar, sementara CNP lebih ringan dan cocok untuk struktur sekunder seperti gording dan rangka dinding.
Bagaimana cara membaca ukuran CNP 100 x 50 x 20 x 2,3?
Urutannya badan, sayap, bibir, tebal, semuanya dalam milimeter. Jadi badan 100 mm, lebar sayap 50 mm, tinggi bibir 20 mm, dan tebal pelat 2,3 mm. Berat satu batang 6 meter dengan spesifikasi tersebut sekitar 24,4 kg.
Besi CNP panjang berapa meter per batang?
Panjang standar yang beredar di pasar Indonesia adalah 6 meter per batang untuk semua ukuran. Beberapa pabrik dan fabrikator melayani panjang custom sesuai pesanan, tetapi stok reguler toko material umumnya 6 meter.
Untuk gording sebaiknya pakai CNP ukuran berapa?
Tidak ada jawaban tunggal karena ukurannya ditentukan oleh jarak antar kuda-kuda, jarak antar gording, jenis penutup atap, dan beban angin setempat. Sebagai gambaran umum, gudang dengan jarak kuda-kuda sekitar 6 meter dan penutup atap ringan sering memakai CNP 150 x 65 x 20 dengan tebal 2,3 mm atau 3,2 mm, sedangkan rumah dan ruko biasanya cukup dengan CNP 100 atau 125. Ukuran final tetap harus mengikuti perhitungan struktur.
Apa beda kanal CNP dan baja ringan kanal C?
CNP struktural umumnya baja hitam setebal 1,6 sampai 3,2 mm yang perlu dicat anti karat, sementara baja ringan kanal C adalah profil tipis 0,60 sampai 1,00 mm dari baja mutu tinggi berlapis aluminium-seng yang tidak perlu dicat. CNP dipakai untuk gording dan rangka yang memikul beban lebih besar, baja ringan untuk rangka atap dan plafon bangunan ringan.
Butuh Bantuan Menyiapkan Material Rangka Proyek Anda
Menentukan ukuran profil, menghitung kebutuhan batang, dan menyusun daftar material sering memakan waktu lebih lama daripada pemasangannya sendiri. Tokban bantu pengadaan material untuk proyek Anda, mulai dari menyusun daftar kebutuhan sampai mengatur pengiriman ke lokasi, supaya tim di lapangan bisa fokus mengerjakan pekerjaannya.
Punya rencana rangka atap, pagar, atau mezzanine yang perlu dibantu? Konsultasi kebutuhan material lewat WhatsApp dan tim kami bantu susun estimasinya.

Titis Nur Pratomo
SEO & Content Contributor
Titis Nur Pratomo adalah praktisi SEO dan content writing dengan pengalaman bertahun-tahun di dunia digital. Ia menaruh perhatian pada industri bahan bangunan dan properti, memadukan riset kata kunci dengan kebutuhan nyata pemilik rumah, kontraktor, dan tukang agar kontennya akurat sekaligus mudah dipraktikkan.
LinkedInArtikel Terkait

Kawat Las: Jenis, Kode Elektroda, Ukuran, dan Ampere
Panduan kawat las: fungsi, jenis per proses las, cara baca kode elektroda AWS, ukuran diameter dan setelan ampere, plus cara menyimpan yang benar.

Keramik Granit: Kelebihan, Jenis, dan Tips Memilih untuk Rumah
Keramik granit menjadi salah satu pilihan material lantai yang banyak diminati untuk rumah modern. Tampilannya bersih, elegan, dan memberi kesan mewah tanpa…

Backdrop TV: Material, Ukuran, dan Ide Desain Minimalis
Panduan backdrop TV minimalis: material panel PVC, gypsum, kayu HPL, batu alam, acuan ukuran dan tinggi pasang TV, pencahayaan, sampai manajemen kabel.

Besi WF: Ukuran, Berat, Beda dengan H-Beam, dan Fungsinya
Panduan besi WF: cara baca ukuran seperti WF 200 x 100 x 5,5 x 8, berat per meter, bedanya dengan H-beam, UNP dan CNP, plus aplikasinya di konstruksi.


